TAKEN FROM μDESK OF DEDE HENDRIONO

Suami Alim Melawan Iblis

Pada mulanya suami isteri itu hidup tenteram. Meskipun miskin, mereka tetap taat kepada perintah Allah. Segala hal yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka tekun sekali. Si Suami adalah seorang yang alim, taqwa dan tawakkal. Tetapi beberap hari ini isterinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya hidup jika segalanya serba cukup.

Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mau mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan ia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Ia mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu. Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangnya laris.

“Ini syirik!” dalam pikiran lelaki yang alim tadi. “Ini harus diberantas habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain kepada Allah.” Maka cepat-cepat dia pulang. Isterinya heran, mengapa secepat itu suaminya pulang. Lebih heran lagi ketika dilihat suaminya mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas lelaki alim tadi bergegas keluar. Isterinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keledainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu. Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesusuk tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis yang menyerupai manusia.

“Hai, mau ke mana kamu?” tanya si iblis.

Orang alim tersebut menjawab, “Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang pohon syirik itu.”

“Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang saja.”

“Tidak boleh, kemungkaran mesti diberantas,” jawab si alim bersikap tegas.

“Berhenti, jangan teruskan!” bentak iblis marah.

“Akan saya teruskan!”

Karena masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis. Kalau melihat perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah dapat dikalahkan. Namun ternyata iblis menyerah kalah, meminta-minta ampun. Kemudian dengan berdiri menahan kesakitan dia berkata, “Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila Tuan selesai menunaikan sholat Subuh, di bawah sajadah sholat Tuan saya sediakan uang emas empat dinar. Pulang saja sekarang, jangan teruskan niat Tuan itu.”

Mendengar janji iblis dengan uang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Ia teringat keinginan isterinya yang berharap hidup berkecukupan. Ia teringat akan keluuhan istrinya setiap hati. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan saja dia sudah boleh menjadi orang kaya. Mengingatkan desakan-desakan isterinya itu maka pulanglah dia. Hilanglah niat semula untuk memberantas kemungkaran.

Demikianlah, semenjak pagi itu isterinya tidak pernah marah lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai sholat, dibukanya sajadah sholatnya. Betul di situ tergolek empat benda berkilat, empat dinar uang emas. Dia meloncat riang, isterinya gembira. Begitu juga hari kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka sajadah sholat, masih didapatinya uang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah sajadah sholatnya tidak ada apa-apa lagi kecuali tikar pandan yang rapuh. Isterinya mulai marah karena uang yang kemarin sudah dihabiskan.

Si alim dengan lesu menjawab, “Jangan khawatir, besok mungkin kita akan mendapatkan delapan dinar sekaligus.”

Keesokkan harinya, harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai sholat dibuka sajadahnya dan ternyata kosong.

“Kurang ajar. Penipu!” teriak si isteri. “Ambil kapak, tebanglah pohon itu.”

“Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya hingga ke ranting dan daun-daunnya,” sahut si alim itu.

Maka segera ia mengeluarkan keledainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keledainya menuju ke arah pohon yang syirik itu. Di tengah jalan iblis yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghalang. Matanya menyorot tajam, “Mau ke mana kamu?” hardiknya mengagetkan.

“Mau menebang pohon” jawab si alim dengan gagah berani.

“Berhenti, jangan lanjutkan.”

“Bagaimanapun juga tidak boleh, sebelum pohon itu tumbang.”

Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis yang kalah, tapi si alim yang terkulai. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh heran, “Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?”

Iblis itu dengan angkuh menjawab, “Tentu saja engkau dahulu boleh menang, karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andai kata kukumpulkan seluruh tentaraku menyerangmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya karena tidak ada uang di bawah sajadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh kekuatanmu, tidak mungkin kamu mampu mengalahkan aku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu.”

Mendengar penjelasan iblis ini si alim tadi termangu-mangu. Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas karena Allah lagi. Dengan terhuyung-hayang ia pulang ke rumahnya. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu. Ia sadar bahwa perjuangannya yang sekarang adalah tanpa keikhlasan karena Allah, dan ia sadar perjuangan yang semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa selain kesia-siaan. Sebab tujuannya adalah karena harta benda, tidak karena Allah dan agama. Bukankah berarti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata-mata?

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia rubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”[HR. Muslim dalam Al-Iman (49)]


Artikel Terkait

Bahaya Pornografi Bagi Generasi

Sebenarnya membina keimanan itu jangan menunggu anak terpapar pornografi dulu. Jangan lupa tanamkan pula di benak anak, teknologi itu penting, dan jangan sampai gaptek. Tapi anak pun harus dipahamkan bahwa teknologi seperti hp, internet itu di samping bermanfaat, ada juga mudharatnya. Jadi terangkan kepada anak dengan bijak, apa saja yang boleh dan apa saja yang tidak boleh dilakukan dengan teknologi tersebut. Anak harus bisa memelihara pandangan. Anak harus tahu hukuman dan akibat dari membuka hal tersebut. Jadi, harus dibina sebelum anak kecanduan, sebab, jika sudah kena, maka susah sekali. Karena memang mencegah lebih baik daripada mengobati....

Koridor Pola Pikir

Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” [QS.An-Nisaa’: 105]....

Minum Berdiri Ancam Liver dan Ginjal

Minum sambil berdiri apalagi dengan cara menuang membuat air lebih cepat sampai ke ginjal dan tak sempat disaring dan tidak terdistribusi dengan baik, bahkan cairan segar itu bisa lebih cepat terbuang. Padahal tubuh kita mengandung sekitar 70 persen cairan dan sangat membutuhkan air. Bayangkan bahwa tulang kita mengandung air sampai 40 persen, darah juga demikian....

Silahkan Berkomentar