TAKEN FROM μDESK OF DEDE HENDRIONO

Mengenal Resistor

Resistor merupakan komponen elektronik yang paling sering ditemukan dalam berbagai peralatan elektronik. Resistor merupakan bagian penting dihampir setiap sirkuit elektronika, dan memainkan peranan utama dalam berbagai rangkaian elektronik.

Pada artikel kali ini kita akan membahas berbagai hal tentang resistor, diantaranya:


Dasar Resistor

Resistor adalah komponen elektronik yang spesifik, hambatan listrik yang tidak berubah. Resistansi resistor membatasi aliran elektron yang mengalir didalam sirkuit. Resistor merupakan komponen fasif yang berarti bahwa resistor hanya mengkonsumsi daya dan tidak dapat menghasilkannya. Resistor biasanya ditambahkan ke dalam sirkuit untuk melengkapi komponen aktif seperti halnya op-amp, mikrokontroler, dan sirkuit terpadu (IC) lainnya. Umumnya resistor digunakan untuk membatasi arus (limit current), membagi tegangan (voltage divider), dan sebagai pull-up I/O.


Unit resistor

Hambatan listrik dari sebuah resistor diukur dalam satuan ohm. Simbol untuk ohm menggunakan huruf Yunani (greek-capital) yaitu omega: Ω. Definisi dari 1Ω (yang mendekatinya) adalah resistansi antara dua titik di mana 1 volt (1V) energi potensial yang digunakann akan mengalirkan arus sebesar 1 ampere (1A).

Seperti halnya satuan SI lain, besar atau kecilnya nilai ohm dapat disederhanakan dengan prefix (awalan) seperti kilo-, mega-, atau giga-, sehingga membuat resistor bernilai besar mudah untuk dibaca. Kita sudah terbiasa untuk melihat nilai resistor dengan satuan antara kiloohm (kΩ) dan megaohm (MΩ) (namun sangat jarang untuk menemukan resistor dalam satuan miliohm (mΩ)). Sebagai contoh, resistor 4.700Ω setara dengan resistor 4,7kΩ, dan resistor 5.600.000Ω dapat ditulis menjadi 5.600kΩ atau (lebih umumnya) 5,6MΩ.


Simbol Skematik

Pada umumnya resistor memiliki dua terminal. Satu titik sambungan pada setiap ujung resistor. Ketika membaca skema rangkaian elektronik, resistor biasanya digambarkan seperti salah satu dari dua simbol dibawah ini.

Dua simbol umum resistor pada skematik. R1 adalah simbol bergaya Amerika sebesar 1KΩ, dan R2 adalah simbol resistor bergaya Internasional sebesar 47kΩ

Terminal dari masing-masing simbol resistor diatas adalah garis perpanjangan dari gerigi atau persegi panjang. Garis perpanjangan inilah yang terhubung kedalam rangkaian. Simbol resistor dalam rangkaian biasa diberi dua keterangan, yaitu nilai resistansi dan nama/nomor urutan resistor. Nilai resistor ditampilkan dalam satuan ohm, dan nama resistor biasanya diawali menggunakan huruf R yang diikuti nomor urut resistor, dan nomor urut resistor haruslah unik antara satu resistor dengan lainnya (tidak boleh ada resistor dengan nomor urut sama, karena beberapa perangkat lunak pembuat rangkaian akan menampilkan pesan kesalahan). Kedua hal ini sangatlah penting untuk mengevaluasi dan menciptakan sirkuit sebenarnya. Sebagai contoh, dibawah ini ada beberapa resistor yang digunakan pada rangkaian 555:

Contoh skema dengan resistor pada timer (pewaktu) 555.

Pada sirkuit diatas, resistor memiliki peran kunci untuk menentukan frekuensi output timer 555 (R1 dan R2). Sedangkan resistor lainnya (R3) membatasi arus yang mengalir ke LED.


Jenis Resistor

Resistor dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran. Resistor dibuat dalam bentuk througt-hole atau surface-mount. Sesuai standar, resistor dibuat secara khusus seperti; static resistor (nilai hambatan tidak berubah), pack resistor (gabungan resistor dalam satu bentuk), atau variable resistor (nilai hambatan yang bisa diubah).


Bentuk dan Ukuran

Resistor dibuat dengan bentuk salah satu dari dua jenis yang umumnya digunakan: yaitu through-hole dan atau surface-mount. Jenis resistor through-hole biasanya disingkat menjadi PTH (plated through-hole) sedangkan surface-mount biasa disingkat menjadi SMD (surface mount device) atau SMT (surface mount technology). Resistor through-hole dibuat dengan ukuran yang lebih panjang, kedua ujungnya diperpanjang dengan kawat dan dibuat lentur agar dapat terpasang dengan baik pada breadboard, atau disolder tangan pada papan prototype dan atau pada Printed Circuit Board (PCB). Resistor PTH ini biasanya digunakan pada breadboarding (rangkaian uji coba), prototyping (rangkaian sebelum tahap pembuatan masal), atau dalam rangkaian jadi dimana kita menggunakan solder manual. Resistor PTH lebih panjang 0,6mm dibanding resistor SMD. Kelemahan resistor PTH ini adalah sisa ujung kawat terminal resistor cukup panjang yang terkadang butuh pemangkasan untuk merapihkannya, dan membutuhkan ruangan lebih luas jika dibandingkan resistor jenis SMD.

Biasanya resistor through-hole dibuat dalam paket aksial. Ukuran resistor aksial disesuaikan dengan rating dayanya. Sebuah resistor ½W memiliki panjang sekitar 9,2mm, sedangkan resistor ¼W memiliki dimensi yang lebih kecil yaitu panjang sekitar 6,3mm.

Resistor ½W (atas) dan resistor ¼W watt

Resistor surface-mount biasanya memiliki dimensi persegi panjang hitam kecil, diakhir kedua sisinya lebih tipis, mengkilap, perak dan merupakan sisi konduktif. Tahanan ini dibuat untuk bisa ditempatkan diatas PCB, dimana resistor jenis ini disolder diatas pad yang sudah disesuaikan dengan dimensi resistor. Pad ini tidak berlubang layaknya dudukan resistor PTH namun pad resistor SMD dibuat landasan persegi empat, sehingga proses penyolderan lebih mudah dengan luas area yang lebih sempit. Posisi pemasangan resistor pun berhadapan langsung dengan pad tidak bersebrangan layaknya resistor PTH. Resistor SMD ini sangat kecil, posisi pemasangan biasanya diatur oleh robot kemudian dimasukan kedalam oven untuk melelehkan timah solder pada permukaan pad sehingga melekat dengan kuat pada PCB.

Sebuah resistor SMD kecil 0603 diletakan didepan hidung George Washington di atas coin uang AS yang mengkilap.

Resistor SMD dibuat dengan beberapa standar ukuran, yaitu; 0805 (panjang 0,8mm dan lebar 0,5mm), 0603, dan 0402. Mereka biasanya digunakan pada papan sirkuit yang diproduksi secara masal, atau pada desain dimana ruang merupakan hal yang sangat diperhatikan. Resistor jenis ini tetap bagus dan menarik walau proses pemasangan pada PCB menggunakan solder manual, namun hati-hati dalam memilih standar ukuran, resistor SMD dengan standar ukuran yang terlalu kecil (misal 0402) sangatlah sulit jika proses penyolderan dilakukan secara manual.


Komposisi Resistor

Resistor dapat dibuat dari berbagai bahan. Paling umum, resistor modern dibuat dari bahan carbon, metal, atau metal-oxide film. Didalam resistor, sebuah bahan film konduktif tipis (yang bersifat resistif) dibalutkan secara heliks dan ditutup bahan isolator. Pada umumnya resistor jenis through-hole dibuat dengan komposisi carbon-film dan metal-film.

Melihat bagian dalam dari beberapa resistor karbon film. Nilai resistansi dari atas ke bawah: 27Ω, 330Ω dan 3,3MΩ Di dalam resistor, carbon-film dililitkan dan dilindungi isolator. Lebih banyak lilitan carbon-film berarti nilai resistansinya lebih tinggi.

Resistor through-hole lainnya bisa saja terbuat dari lilitan-kawat khusus atau dibuat dari metalic foil super-tipis. Resistor jenis ini biasanya lebih mahal, komponen khusus berkualitas tinggi yang dipilih untuk karakteristik unik seperti power-rating yang tinggi, atau untuk kisaran suhu maksimum.

Resistor surface-mount biasanya terdiri dari jenis lapisan film tebal dan film tipis. Film tebal biasanya lebih murah tapi kurang akurat jika dibandingkan dengan yang tipis. Kedua jenis resistor ini terbuat dari sebuah film kecil yang merupakan paduan logam resistif, ditempatkan di antara bahan dasar keramik dan lapisan epoxy/kaca. Dan kemudian terhubung ke tepi ujung konduktif perak.


Resistor Bentuk Khusus

Ada jenis resistor lainnya, yaitu resistor yang di pak khusus. Didalam resistor tersebut sebenarnya hanya sekumpulan resistor yang disusun sejajar dan dikenal dengan nama array resistor. Resistor ini dibuat dengan tujuan khusus. Resistor jenis ini dibuat dari sekumpulan resistor yang dipaket rapi dengan salah satu kakinya digabungkan, sehingga jumlah kakinya lebih sedikit dan lebih pendek. Salah satu ujung array resistor ini merupakan pin umum untuk membagi tegangan atau digunakan sebagai pemisah tegangan.

Sebuah array resistor yang terdiri dari gabungan lima resistor bernilai 330Ω, salah satu ujung dari lima resistor tersebut diikat menjadi satu.

Resistor tidak hanya bernilai statis. Variabel resistor atau sering dikenal dengan nama rheostat, adalah resistor yang nilainya dapat disesuaikan diantara nilai-nilai tertentu. Rheostat yang paling terkenal adalah jenis potensiometer. Potensiometer terdiri dari dua resistor internal yang dihubungkan seri. Nilai resistornya diatur oleh pergerakan center tap (titik pusat) yang berfungsi untuk menyesuaikan pembagian tegangan. Variabel resistor biasanya digunakan sebagai input, seperti halnya untuk knob volume, sehingga mudah dalam penyesuaian tingkat kekerasan volume.

Sekumpulan bentuk potensiometer. Dari atas kiri, searah jarum jam: Standar trimpot, 2-axis joystick, softpot, slide pot, classic pot, dan breadboard trimpot.

Decoding (Membaca) Tanda Nilai Resistor

Meskipun resistor tidak menampilkan nilai secara langsung, sebagian besar resistor ditandai dengan tanda khusus untuk menunjukkan nilai resistansinya. Resistor PTH menggunakan sistem kode-warna (ini membutuhkan keteletitian dalam membacanya), dan resistor SMD memiliki tanda-nilai dengan sistem tersendiri.


Decoding Pita Warna

Through-hole, resistor aksial biasanya menggunakan sistem warna-pita untuk menampilkan nilai resistansinya. Sebagian besar resistor jenis ini memiliki empat pita warna mengelilingi tubuh resistornya.

Pita Warna Resistor Through-Hole

Dua pita pertama menunjukkan dua angka paling signifikan dari nilai resistor. Pita ketiga adalah nilai besaran yang mengalikan dua angka signifikan dengan kelipatan sepuluh. Pita terakhir menunjukan toleransi resistor. Toleransi menjelaskan berapa banyak rentang kurang lebihnya nilai resistansi resistor sebagai pembanding dengan nilai nominal sebenarnya. Tidak ada resistor yang dibuat dengan nilai resistansi sempurna. Proses manufaktur yang berbeda akan menghasilkan nilai toleransi yang lebih baik atau bahkan sebaliknya. Sebagai contoh, sebuah resistor bernilai 1kΩ dengan toleransi 5% maka akan memiliki rentang nilai resistansi antara 0,95kΩ sampai dengan 1,05kΩ.

Bagaimana kita membedakan mana pita pertama dan pita terakhir? Pita terakhir sebagai pita toleransi biasanya dapat dengan jelas terlihat jaraknya berjauhan dengan pita nilai resistor, dan biasanya pita ini hanya berwarna perak atau berwarna emas.

Dibawah ini merupakan tabel dari masing-masing warna yang mewakili nilai, jumlah nol atau toleransi:

Gambar 3. Tabel Warna Resistor

Berikut ini adalah contoh resistor 4,7kΩ dengan empat pita warna:

Resistor 4,7kΩ dari dekat

Ketika decoding (membaca) pita warna resistor, sebaiknya merujuk pada tabel kode warna resistor diatas. Dua pita pertama digunakan untuk menentukan nilai digit sesuai dengan warnanya. Resistor diatas memiliki nilai resistansi 4,7kΩ karena; pita pertama berwarna Kuning yang bernilai 4 (lihat tabel), sedangkan pita kedua berwarna Ungu yang bernilai 7 (lihat tabel), nilai digit resistor tersebut adalah 4 dan 7 (47). Dan pita ketiga berwarna merah yang bernilai 102 (atau 100, lihat tabel), yang berarti bahwa 47 harus dikalikan 102 (atau 100). 47 dikalikan 100 adalah 4.700Ω. Jika ingin dibaca lebih sederhana maka menggunakan satuan kiloohm, untuk menjadi kiloohm maka harus dibagi 1000 maka menjadi 4,7kΩ.

Jika kita mencoba untuk mengingat kode warna pita resistor, ada beberapa cara untuk mengingatnya, walau terdengar rancu, tapi metode yang penulis gunakan cukup lumayan membantu dalam mengingat pita kode warna resistor, yaitu sebagai berikut:

Hi-Co-Me-Ji-Ku-Hi-Bi-U-A-Pu-E-Pe


Kalkulator Kode Warna Resistor

Jika anda merasa malas dengan perhitungan matematika maka terkadang saya pun demikian, maka cara termudah adalah dengan menggunakan kalkulator kode warna resistor yang bisa diunduh pada link ini. Tentang bagaimana cara menggunakan, saya yakin anda akan dengan mudah untuk memahami dalam menggunakan kalkulator kode warna resistor tersebut. Selamat mencoba!


Decoding (Membaca) Tanda Resistor Surface-Mount

Resistor Surface-Mount (SMD), seperti paket 0603 atau 0805, memiliki cara sendiri menampilkan nilainya. Ada beberapa metode umum yang bisa anda perhatikan dalam membaca tanda pada resistor SMD ini. Biasanya resistor jenis ini memiliki 3-4 karakter angka atau huruf yang dicetak diatas badan resistornya.

Jika terdiri dari tiga karakter yang terlihat dan semuanya nomor (bukan huruf), maka anda sedang melihat resistor dengan pengkodean E24. Tanda ini sebenarnya sama saja dengan cara decoding (membaca) sistem pita-warna yang digunakan pada resistor jenis PTH. Dua angka pertama mewakili dua digit pertama nilai paling signifikan, nomor terakhir mewakili besarannya (kelipatan 10).

Contoh Resistor SMD dengan Penanda E-24

Pada gambar contoh di atas, resistor ditandai dengan 104, 105, 205, 751, dan 754. Resistor yang ditandai dengan 104 maka bernilai 100kΩ (10x104), 105 bernilai 1MΩ (10x105), dan 205 bernilai 2MΩ (20x105). 751 bernilai 750Ω (75x101), dan 754 bernilai 750kΩ (75x104).

Sistem pengkodean yang umum lainnya adalah E96, pengkodean ini adalah pengkodean yang samar. Pengkodean resistor E96 ditandai dengan tiga karakter - dua angka diawal dan satu huruf diakhir. Dua angka diawal bernilai tiga digit, berdasarkan pada salah kode dan nilai yang tertera pada tabel dibawah ini.

Tabel Resistor SMD E96

Huruf pada akhir kode merupakan pengganda, yang disesuaikan dengan tabel dibawah ini:

Tabel Pengganda Resistor SMD

Resistor yang ditandai dengan kode E-96

Jadi resistor dengan tanda 01C adalah yang paling sering ditemukan dengan nilai 10kΩ (100x100), 01B bernilai 1kΩ (100x10), dan 01D bernilai 100kΩ (100x1000). Yang tiga kode ini mungkin terasa mudah, namun yang lainnya akan terasa agak sulit. Kode 85A pada gambar adalah bernilai 750Ω (750x1) dan kode 30C sebenarnya bernilai 20kΩ (200x100). Hati-hati! teliti dengan baik, karena kami tidak menjelaskan konversi dari ohm ke kiloohm pada contoh diatas.


Power Rating (Resistor Daya)

Power rating dari resistor adalah salah satu nilai yang tersembunyi. Namun demikian dapat menjadi sangat penting, dan itu adalah topik yang akan muncul ketika memilih jenis resistor.

Daya adalah tingkat di mana energi diubah menjadi sesuatu yang lain. Ini dihitung dengan mengalikan perbedaan tegangan dan arus di antara dua titik yang sedang mengalir, dan diukur dalam satuan watt (W). Bola lampu, misalnya, daya listrik diubah menjadi cahaya. Tapi resistor hanya dapat mengubah energi listrik yang berjalan melaluinya menjadi panas. Sedangkan panas bukanlah teman yang baik bagi perangkat elektronik; terlalu banyak panas dapat menimbulkan asap, percikan api, dan bahkan terbakar!

Setiap resistor memiliki rating daya maksimum tertentu. Dalam rangka menjaga resistor dari panas yang berlebihan (overheat), penting untuk memastikan kekuatan pada sebuah resistor yang digunakan, resistor yang akan digunakan harus berada dalam lingkup rating nilai maksimum. Power rating dari resistor diukur dalam watt, dan biasanya ditentukan antara ¼WW (0.125W) dan 1W. Resistor dengan peringkat daya lebih dari 1W biasanya disebut sebagai resistor daya, dan digunakan khusus untuk mempertahakan kemampuan power.


Menentukan Sebuah Resistor Power Rating

Sebuah resistor power rating biasanya dapat disimpulkan dengan mengamati ukuran kemasannya. Standar resistor through-hole biasanya dibuat dengan nilai ¼W atau ½W. Untuk tujuan khusus, resistor daya mungkin bisa dipertimbangkan untuk dimasukan kedalam daftar yang disesuaikan dengan power rating-nya.

Resistor daya ini dapat menangani lebih banyak power sebelum terbakar. Dari kanan-atas ke bawah-kiri adalah contoh resistor daya yang bernilai dari 25W, 5W dan 3W, dengan nilai resistansi 2Ω, 3Ω, 0,1Ω dan 22kΩ. Resistor daya dengan nilai kecil biasanya digunakan untuk memaksimalkan arus yang mengalir.

Peringkat daya dari resistor surface-mount biasanya dapat dilihat dari ukurannya juga. Resistor dengan ukuran 0402 dan 0603 biasanya bernilai 1/16W, dan 0805 bernilai 1/10W.


Mengukur Kekuatan pada Resistor

Power biasanya dihitung dengan mengalikan Tegangan (V) dan Arus (I) (P = I.V). Tapi dengan menggunakan hukum Ohm, kita juga bisa menggunakan nilai resistansi dalam menghitung daya. Jika kita tahu arus yang mengalir pada sebuah resistor, kita dapat menghitung daya sebagai berikut:

P = I2*R

Atau, jika kita tahu tegangan resistor, daya dapat dihitung sebagai berikut:

P = V2/R


Hubungan Resistor Seri dan Paralel

Resistor selalu terhubung sepanjang waktu dalam rangkaian elektronik, biasanya terhubung dengan rangkaian seri atau paralel. Ketika resistor digabungkan secara seri atau paralel, mereka menciptakan resistansi total, yang dapat dihitung dengan menggunakan salah satu dari dua persamaan. Untuk mengetahui berapa nilai resistor yang digabungkan maka kita harus mengetahui terlebih dahulu nilai dari resistor tertentu.


Resistor Hubungan Seri

Bila resistor terhubung seri maka nilainya cukup dengan menambahkan antara nilai satu resistor dengan resistor berikutnya.

Persamaan untuk mengetahui nilai resistor total yang terhubung seri

Rtot = R1 + R2 ... RN-1 + RN
N resistor pada hubungan seri. Total resistensi adalah jumlah dari semua resistor yang terhubung seri.

Misalnya, jika Anda membutuhkan resistor dengan nilai total 3,6kΩ, maka cukup mencari resistor dengan nilai-nilai yang sudah umum, misal; 2,2kΩ, 1,2kΩ dan 2 resistor dengan nilai 100Ω dan kemudian setiap ujung dari masing-masing resistornya dihubungkan secara seri. Maka hasilnya 2,2 + 1,2 + 0,1 + 0,1 = 3,6kΩ.


Resistor Hubungan Paralel

Menemukan nilai resistensi resistor yang dihubungkan secara paralel tidak begitu mudah. Total nilai resistansi dari N resistor secara paralel adalah kebalikan dari jumlah semua resistensi. Persamaan ini mungkin lebih masuk akal dari kalimat terakhir diatas:

Bersambung…


Artikel Terkait

Memahami Pull-up Resistor

Pull-up Resistor sangat umum digunakan pada mikrokontroler (MCU) atau pada perangkat logika digital (digital logic device). Artikel kali ini akan membahas kapan dan dimana harus menggunakan pull-up resistor, melakukan perhitungan sederhana dan menunjukan mengapa pull-up resistor itu penting....

Menggunakan Breadboard

Breadboard adalah salah satu bagian yang paling mendasar ketika belajar bagaimana membuat sirkuit dalam elektronika. Dalam tutorial ini, kita akan belajar tentang apa breadboard, mengapa disebut breadboard, dan bagaimana menggunakan breadboard untuk prototyping. Setelah selesai membaca artikel ini maka harapan penulis, para pembaca memiliki pemahaman dasar tentang bagaimana bekerja dengan breadboard dan mampu membangun sirkuit dasar pada breadboard....

Mengenal Baterai

Baterai sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Penemuan baterai modern sering dikaitkan dengan seorang ilmuwan yang bernama Alessandro Volta. Padahal, sejarah dimulai dari ketidaksengajaan yang mengagetkan saat proses pembedahan katak. Ya benar! Sejarah baterai dimulai dari seekor katak! Artikel kali ini akan mengupas hal-hal yang berhubungan dengan baterai, dimulai dari sejarah baterai, komponen baterai, prinsip kerja baterai, teminologi baterai, hingga penggunaan baterai....

Mengenal Mikrokontroler

Memang cukup membingungkan ketika mendengar istilah Mikrokontroler dan Mikroprosesor. Bagi para pengguna yang masih awam kedua istilah diatas dianggap sama, bahkan ada yang menganggap hanya beda istilah saja. Anggapan tersebut tidak salah 100% namun juga tidak benar 100%. Mikrokontroler dan Mikroprosesor adalah dua benda yang beda target penggunaan, beda kelengkapan fungsinya dan beda perusahaan yang awal menciptakan, namun berangkat dari ide yang sama, arsitektur yang sama, bahkan dari tahun lahir yang hampir sama pula. Lalu apa sebenarnya Mikrokontroler dan Mikroprosesor?...

Apa itu Arduino?

Arduino adalah pengendali mikro (mikrokontroler) papan tunggal yang bersifat open-source (sumber terbuka), diturunkan dan dikembangkan dari platform Wiring, dirancang untuk memudahkan penggunaan elektronik dalam berbagai bidang. Hardwarenya menggunakan prosesor Atmel AVR dan softwarenya memiliki bahasa pemrograman sendiri dengan antar-muka diambil dari Processing....

Memilih Arduino Uno Untuk Pemula

Arduino Uno Original, Arduino Compatible dan Arduino Clone menjadi sangat membingungkan bagi para pemula yang hendak belajar tentang pemrograman Arduino. Arikel ini membahas tips dan trik menentukan pilihan papan Arduino Uno yang tepat terutama bagi pemula. Tepat sesuai dengan tujuan penggunaan dan tepat sesuai dengan dana yang dimiliki oleh penggunanya. Informasi tentang jenis-jenis Arduino yang ada dipasaran Indonesia tidak terlalu jelas, bahkan beberapa penjual Arduino sengaja tidak memberikan informasi detail tentang Arduino Uno yang dijualnya....

Pelajaran Arduino - 1 Blink

Pelajaran Arduino 1 Blink. Kita akan belajar bagaimana mem-program Arduino untuk membuat LED yang terpasang pada Arduino melakukan "Blink" atau "Kedipan". Di dunia elektronika untuk mengucapkan salam sebelum masuk dan belajar lebih jauh tentang elektronika, maka biasanya para pakar elektronika mengarahkan kita untuk menciptakan "Blink". Membuat "Blink" seperti ini menjadi hal yang sangat lumrah didunia elektronika, terutama bagi mereka yang baru saja mengenal dunianya elektron dan saklar. ...

Solusi avrdude stk500_getsync() pada Arduino

Artikel sebelumnya telah membahas permasalahan dan solusi pada Arduino. Pembahasan artikel tersebut mengarah pada kesalahan penulisan kode. Artikel kali ini membahas permasalahan umum yang sering muncul pada Arduino. Namun permasalahan kali ini mengarah pada kesalahan komunikasi antara Komputer dengan Arduino. Kesalahan komunikasi atau Upload error tidaklah serumit kesalahan kode, namun karena sifatnya yang mengarah ke fisik, biasanya mengarah ke papan Arduino. Dan dalam kasus yang fatal, Mikrokontroller harus diganti. Jika anda menemukan masalah seperti ini, jangan langsung mengambil kesimpulan terparah, pelajari dulu masalah yang menyebabkan kesalahan komunikasi tersebut. Artikel kali ini memaparkan permasalahan yang terjadi dan solusinya jika terjadi kesalahan avrdude: stk500_getsync(): not in sync: resp=0x00....

Mengenal Arduino Uno

Arduino Uno adalah papan mikrokontroler berbasis ATmega328. Arduino Uno memiliki 14 digital pin input/output, dimana 6 pin digunakan sebagai output PWM, 6 pin input analog, 16 MHz resonator keramik, koneksi USB, jack catu daya eksternal, header ICSP, dan tombol reset. Sebuah ATmega16U2 yang terdapat pada papan digunakan sebagai media komunikasi serial melalui USB dan muncul pada hardware komputer sebagai COM Port Virtual untuk berkomunikasi dengan perangkat lunak pada komputer. Firmware 16U2 menggunakan driver standar USB COM, sehingga tidak membutuhkan driver eksternal....

Silahkan Berkomentar