TAKEN FROM μDESK OF DEDE HENDRIONO

Level Riset Indonesia Rendah

Level riset kita dibanding Malaysia, kalah jauh. Mengapa?

Karena kita tidak punya scientific leadership (kepemimpinan ilmiah). Yang saya maksud adalah kepemimpinan di level elit nasional, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Masih ingatkah kita ketika dulu Presiden “tertipu” oleh penemuan blue energy, dan baru mengundang para peneliti setelah masyarakat ikut tertipu (tertipu berjama’ah). Di berbagai kementerian & lembaga, juga di kampus, ego sektoral/unital (sekalipun sama-sama untuk riset) sangat terasa. Demikian juga bagaimana dengan masyarakat kita sekarang ini, melek internet tetapi gampang sekali terkecoh oleh hoax, oleh isu-isu yang too good or too bad to be true. Ketiadaan scientific leadership menyebabkan tidak terbangunnya scientific behaviour dan scientific tradition.

Akibatnya scientific management kita secara umum masih acak-acakan. Kesulitan mendapatkan motivasi yang kuat, kesulitan mendapatkan role model, kesulitan menentukan mana yang prioritas, bagaimana membuat roadmap, bagaimana strategic plan-nya, berapa prosen dari PDB/APBN/APBD harus dianggarkan ke sana, siapa saja yang seharusnya berkolaborasi untuk berkompetisi di tingkat international, dsb.

Lantas scientific difusion (penyebarluasan ilmiah) kita nyaris bisu. Masyarakat jarang tahu apa yang terjadi di dunia riset tanah air. Media massa belum banyak terlibat, apalagi membantu. Rakyat lebih akrab dengan hingar bingar politik atau dunia seputar selebriti, daripada hasil-hasil intelektual anak bangsa. Para peneliti sendiri lebih merasa didorong, sehingga merasa cukup dengan angka kredit yang didapat dari publikasi ilmiah, syukur-syukur internasional, daripada bahwa hasil riset mereka benar-benar diketahui masyarakat luas untuk diaplikasikan. Mereka cukup puas merasa bahwa “with international scientific publication, we are welcome to international scientific communitiy, also we are now growing in international level”, tetapi seharusnya juga sadar bahwa “with international level, we get international responsibility”.

Lalu scientific adoption di pemerintah (baik berupa kebijakan umum maupun implementasi di pengadaan barang & jasa) maupun di swasta (B2B) juga “masuk angin”. Bahkan teknologi canggih yang kebetulan dikembangkan di sesama negara berkembang (South-South-Dialog), semisal dari Brazil, meski dikembangkan oleh pakar yang sempat berkarier 20 tahun di Jerman, sulit diadopsi di Indonesia. Antara lain karena selama proses tender sulit mendapatkan modal kerja dari bank setempat, meski quality - price & delivery-time-nya lebih unggul dibanding produk sejenis dari Jepang atau China. Apalagi kalau yang murni dikembangkan di Indonesia oleh orang-orang yang baru berpengalaman di Indonesia. Terkadang, untuk uji real di lapangan saja, mencari ijinnya setengah mati. Apalagi ijin industri atau ijin perdagangan.

Dan terakhir scientific audit menjadi nyaris tidak ada. Perkembangan riset iptek di tanah air jadi sulit dikontrol, karena mau dibandingkan dengan apa? Ketika scientific leadership lemah, maka nyaris tidak ada roadmap, sehingga progress risetpun jadi sulit dinilai. Berapa peneliti dan penelitian yang seharusnya ada, bagaimana kualitasnya, berapa output & outcome yang seharusnya dihasilkan, semua masih mirip fatamorgana.

Tentu saja selalu ada orang-orang hebat yang menjadi perkecualian. Merekalah para pionir, yang tetap memiliki mahakarya, meski di bawah kondisi yang maha sulit ini. Semoga Allah membalas mereka dengan balasan yang lebih baik.

Ditulis oleh Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar


Artikel Terkait

Koridor Pola Pikir

Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” [QS.An-Nisaa’: 105]....

Melatih Kemampuan Menulis dengan Internet

Internet merupakan salah satu media yang dapat digunakan oleh guru untuk belajar menulis tentang hasil pengelolaan materinya. Mulailah dari materi-materi pendek dengan menuliskannya sebagai status pada situs jejaring sosial, ini bertujuan untuk memancing komentar teman-teman tentang materi dalam status yang telah dituliskan. Komentar-komentar yang ditulis oleh teman-teman dalam situs jejaring tersebut bisa dimanfaatkan oleh guru untuk memperbaiki kualitas tulisannya atau untuk memperluas pembahasan materi....

Teknologi dan Pendidikan

Berbeda antara teknologi pendidikan yang lebih tertuju pada sarana dan prasarana penunjang proses pendidikan, sedang pendidikan teknologi lebih tertuju pada sumber daya manusianya dalam penguasaan teknologi yang sudah tersedia. Ada ketidakseimbangan antara teknologi pendidikan yang tersedia dengan pendidikan teknologi pelaksana pendidikan dilapangan, hal ini haruslah menjadi pemikiran bersama dalam upaya memaksimal proses transfer ilmu didunia pendidikan Indonesia. Rendahnya pengetahuan teknologi untuk penggunaan teknologi pendidikan menjadikan sarana yang tersedia menjadi sangat tidak bermanfaat bahkan menjadi pajangan semata. ...

Bahaya Pornografi Bagi Generasi

Sebenarnya membina keimanan itu jangan menunggu anak terpapar pornografi dulu. Jangan lupa tanamkan pula di benak anak, teknologi itu penting, dan jangan sampai gaptek. Tapi anak pun harus dipahamkan bahwa teknologi seperti hp, internet itu di samping bermanfaat, ada juga mudharatnya. Jadi terangkan kepada anak dengan bijak, apa saja yang boleh dan apa saja yang tidak boleh dilakukan dengan teknologi tersebut. Anak harus bisa memelihara pandangan. Anak harus tahu hukuman dan akibat dari membuka hal tersebut. Jadi, harus dibina sebelum anak kecanduan, sebab, jika sudah kena, maka susah sekali. Karena memang mencegah lebih baik daripada mengobati....

Efek Positif Jejaring Sosial bagi Siswa

Dengan jejaring sosial siswa akan mampu belajar cara mengembangkan kemampuan teknis dan sosial yang dibutuhkan mereka dalam menghadapi era digital sekarang ini. Mereka akan menemukan cara beradaptasi dan bersosialisasi dengan sahabatnya di jejaring sosial, serta kemampuan memanajemen pertemanan mereka. Hal ini merupakan materi yang sulit untuk ditemukan dalam pelajaran di kelas...

Efek Negatif Jejaring Sosial bagi Siswa

Teknologi merupakan hal mubah (boleh) yang hukumnya akan menjadi halal jika dipergunakan untuk hal-hal positif dan bermanfaat namun bisa pula menjadi haram ketika teknologi tersebut dipergunakan sebagai media dalam melakukan tindakan yang melanggar aturan Islam....

Memanfaatkan Internet Sebagai Sumber Belajar

Jadilah guru yang benar-benar profesional dengan mampu menggunakan berbagai fasilitas yang sudah tersedia seperti halnya internet sebagai sumber belajar sehingga proses transfer ilmu menjadi lebih efektif dan efesien tentunya dengan harapan tujuan mulia pendidikan akan tercapai dengan waktu relatif singkat tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal....

Membuat Multimedia Pembelajaran

Dewasa ini komputer sejenis desktop atau pun laptop sudah semakin banyak bertebaran dihampir setiap sekolah dan hampir setiap guru dapat mengoperasikan komputer. Media pembelajaran adalah salah satu cara yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan materi-materi pelajarannya dikelas dengan memanfaatkan komputer yang ada. Membuat suatu multimedia pembelajaran dibutuhkan ketekukan dan keuletan untuk meramu berbagai fasilitas yang tersedia agar lebih berdaya guna tinggi bagi siswa dan bagi keberlangsungan proses belajar mengajar. Terus mencoba, terus belajar, dan pantang menyerah merupakan modal dasar untuk mampu menciptakan multimedia pembelajaran yang bagus, tepat sasaran sesuai dengan materi yang disampaikan....

Mengatasi Kesulitan Belajar

Kegiatan belajar mengajar dikelas bukanlah hanya sebuah kegiatan transfer ilmu semata, tapi lebih jauh lagi dalam hal penyiapan dan pembentukan generasi yang lebih kompenten pada bidang yang pilihnya. Tentunya kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dikelas tidaklah semudah dalam sinetron yang "tiba-tiba" menjadi pintar tanpa upaya maksimal baik dari guru, siswa, sekolah dan aspek lainnya yang mempengaruhi pendidikan itu sendiri....

Silahkan Berkomentar