TAKEN FROM μDESK OF DEDE HENDRIONO

Latar Belakang OBD-II

Sistem On-Board Diagnostic terdapat pada kebanyakan kendaraan ringan sekarang ini. Selama kurun waktu 70-an hingga awal 80-an para produsen mesin/kendaraan mulai menggunakan perlengkapan elektronik untuk mengontrol kinerja mesin dan mendiagnosis permasalahan mesin. Hal ini terutama untuk memenuhi standar emisi EPA (EPA emission standards). Selama bertahun-tahun sistem on-board diagnostic terus dikembangkan dan menjelma menjadi teknologi yang sangat canggih. OBD-II, adalah sebuah standar baru yang diperkenalkan ke publik pada pertengahan tahun 90-an, yang telah mampu mengontrol mesin secara keseluruhan, memonitor bagian-bagian chasis, bodi dan aksesoris kendaraan, serta jaringan diagnostik kontrol mobil.

Latar Belakang OBD-II

Ruang Lingkup Bahasan

Dari Mana Cikal Bakal OBD?

Untuk mengatasi masalah asbut (kabut campur asap) di wilayah Los Angeles, Negara Bagian California mulai membutuhkan sistem kontrol emisi pada sekitar 1.966 model mobil. Pemerintah federal memberlakukan kontrol emisi secara nasional pada tahun 1968.

Pada tahun 1970, Kongres menyetujui Clean Air Act dan mendirikan Environmental Protection Agency (EPA). Sejak saat itulah serangkaian standar uji emisi dan persyaratan untuk pemeliharaan kendaraan untuk jangka panjang mulai dibuat dan dikembangkan. Agar memenuhi standar, produsen beralih ke pasokan bahan bakar dan sistem pengapian yang dikontrol secara elektronik. Sensor-sensor mendeteksi kinerja mesin dan menyesuaikan sistem untuk menghasilkan polusi minimal. Sensor-sensor ini juga diakses untuk memberikan bantuan diagnostik sejak dini.

Pada mulanya ada beberapa standar dan masing-masing produsen memiliki sistem dan signal sendiri. Pada tahun 1998, Society of Automotive Engineers (SAE) mengatur standar steker konektor (connector plug) dan standar pengeset dari sinyal tes diagnostik. EPA mengadopsi sebagian besar standar dari program on-board diagnostic dan rekomendasi yang dibuat SAE. OBD-II merupakan perkembangan standar set dan praktek yang dikembangkan oleh SAE dan kemudian diadopsi oleh EPA dan CARB (California Air Resources Board) yang diimplementasikan pada 1 Januari 1996.

Mengapa Kita Membutuhkan OBD?

EPA telah menetapkan pengurangan “emisi mobil” pada mobil dan truk dan diberi kekuasaan untuk mewajibkan setiap produsen agar membuat mobil yang memenuhi standar emisi ketat. Para produsen harus mampu membuat dan mempertahankan standar emisi dari mobil-mobil mereka agar lebih bermanfaat untuk jangka panjang kendaraan. OBD-II menyediakan inspeksi universal dan metode diagnosis untuk memastikan kondisi mobil yang sesuai dengan standar OEM (Original Equipment Manufacturer). Walaupun ada argumen mengenai standar yang tepat dan metodologi lain yang digunakan, fakta yang ada dibutuhkan untuk mengurangi tingkat polusi kendaraan yang dipancarkan di kota kita, dan kita harus menerima persyaratan ini. Itulah alasan utama kita membutuhkan OBD.

Apakah Mobil Kita Memiliki OBD-II?

Semua mobil yang dibangun sejak 1 Janurai 1996 telah dilengkapi sistem OBD-II. Produsen mobil mulai menggabungkan OBD-II pada berbagai model yang dibuat sejak 1994. Beberapa mobil yang dibangun lebih awal tidak 100% telah menggunakan OBD-II. Untuk mengetahui tanggal digunakannya OBD-II pada beberapa merk dan model akan dibuat pada daftar terpisah.

Ada lima dasar protokol OBD-II yang digunakan, masing-masing dengan sedikit variasi pada pola komunikasi antara komputer on-board diagnostic dengan konsol scanner atau alat yang sejenisnya. Meskipun beberapa produsen melakukan beberapa perubahan protokol pada beberapa tahun terakhir, sebagai aturan praktisnya, produk Chrysler dan semua Eropa sebagian Asia menggunakan sirkuit ISO 9141 dan KWP2000. Mobil-mobil dan truk ringan yang diproduksi oleh GM (General Motor) menggunakan pola komunikasi SAE J1850 VPW (Variable Pulse Width Modulation), sedangkan Ford menggunakan pola komunikasi SAE J1850 PWM (Pulse Width Modulation). CAN (Controller Area Network) adalah protokol terbaru yang ditambahkan kedalam spesifikasi OBD-II, dan diterapkan pada semua model mobil sejak tahun 2008 hingga model mobil yang terbaru.

Kita juga dapat membedakan protokol mana yang digunakan pada mobil tertentu dengan memeriksa soket konektornya dengan hati-hati. Jika konektor pada dasbor memiliki pin di posisi #7 dan tidak tersedia pin di posisi #2 atau #10, maka mobil menggunakan protokol ISO 9141 atau KWP2000. Jika pin #7 tidak tersedia, mobil menggunakan protokol SAE. Jika pin #7 dan pin #2/#10 tersedia maka mobil menggunakan protokol ISO. Sedangkan protokol CAN menggunakan pin #6 dan pin #14. Walaupun ada sambungan elektris protokol OBD-II, set perintah tetap mengacu pada standar SAE J1979.

Gambar 1. Konektor Pin OBD-II
StandarPin 2Pin 6Pin 7Pin 10Pin 14Pin 15
J1850 PWMharus tersedia--harus tersedia--
J1850 VPWharus tersedia-----
ISO9141/14230--harus tersedia--tambahan
ISO15765 (CAN)-harus tersedia--harus tersedia-

Bagaimana Menghubungkan Output OBD-II?

Pra OBD-II mobil memiliki konektor di berbagai posisi, ada yang dibawah dasbor, bahkan ada yang berada dibawah kap mobil. Sedangkan sejak OBD-II semua mobil memiliki konektor yang terletak kompartemen penumpang sehingga mudah diakes dari kursi pengemudi. Periksa konektor dibawah dasbor atau dekat asbak. Sebuah kabel dihubungkan ke OBD-II melalui konektor J1962 dan hubungkan ke AutoTap atau alat scantool jenis lainnya. AutoTap tersedia untuk versi PC/laptop. Sedangkan scantool jenis lainnya tersedia dipasaran dalam bentuk dan ukuran berbeda-beda, ada yang berukuran kecil agar mudah digenggam yang mampu menampilkan error code, hingga ada yang berbentuk konsol sebesar berbasis komputer dengan harga cukup mahal hingga ribuan dolar.

Apa Hal Baik dari Hasil Pemeriksaan OBD-II?

Sinyal OBD-II sering digunakan sebagai tanggapan atas “Check Engine” yang menyala pada dasbor atau masalah ketidak stabilan pengemudian yang terjadi pada kendaraan. Data yang dikeluarkan oleh OBD-II sering digunakan untuk menentukan secara spesifik komponen mana yang berfungsi dan komponen mana yang tidak berfungsi dengan baik, hal ini tentunya dapat menghemat banyak waktu dan biaya dibandingkan dengan metode tebak-ganti dalam perbaikan. Sinyal hasil scan OBD-II juga dapat digunakan untuk memberikan informasi akurat mengenai kondisi mobil saat membeli mobil bekas.

Lampu “Check Engine”

Industri Jasa Perbaikan (Bengkel) sering menyebut lampu “Check Engine” pada dasbor dengan sebutan “MIL” atau Malfunction Indicator Light (Lampu Indikator Kerusakan). Ini akan menampilkan tiga jenis sinyal.

  • Sesekali terjadi kedipan MIL menunjukan kegagalan fungsi yang bersifat biasa (tidak terlalu serius).
  • Jika MIL menyala terus menerus (tanpa kedipan) itu menunjukan terjadi masalah yang bersifat sangat serius, yang berpengaruh pada emisi gas buang atau keamanan kendaraan.
  • Jika MIL berkedip terus menerus secara konstan itu menandakan masalah berat yang dapat menyebabkan kerusakan serius jika mesin tidak segera dihentikan.
Gambar 2. Simbol MIL

Dalam semua kasus, sebuah “freeze frame” untuk semua pembacaan sensor pada saat itu akan tercatat pada komputer pusat kendaraan. Sinyal kegagalan disebabkan oleh masalah yang serius yang akan menyebabkan MIL tetap menyala setiap mobil dihidupkan, MIL akan padam jika masalah diperbaiki dan MIL di-reset. Kegagalan intermiten menyebabkan MIL menyala untuk sejenak dan mereka sering keluar sebelum masalah semakin parah. Freeze frame menangkap kondisi mobil kedalam komputer pada saat kerusakan tersebut, data ini sangat berharga untuk mendiagnosis masalah intermiten. Namun, dalam beberapa kasus, jika mobil telah menyelesaikan tiga siklus berjalan tanpa terjadi masalah yang terulang, maka frame freeze akan dihapus.

OBD-II dan Kesehatan Mobil Anda

Karena ivestasi yang tidak murah dalam menyediakan peralatan scantool dan alat diagnosa masalah-masalah yang menggunakan sinyal sistem OBD-II, bengkel biasanya mengenakan biaya perawatan, yang terkadang menjadi sangat mahal. Bengkel dan para teknisi biasanya menghindari pekerjaan yang berhubungan sinyal-sinyal ini dikarenakan biaya dan kompleksitas teknik peralatan. Namun, dewasa ini telah diperkenalkan peralatan pemindai yang lebih ekonomis dan murah, sehingga praktis hampir semua orang bisa mengakses sinyal-sinyal OBD-II untuk sekedar menguji kendaraan sendiri dan atau melakukan perbaikan sendiri.

Scanner sekarang ini sangat bervariasai dari mulai scanner sederhana hingga scanner yang memiliki komplesitas sangat tinggi. Perangkat keras dan perangkat lunak yang terhubung dengan komputer utama kendaraan sekarang mampu memanggil informasi-informasi OBD-II dengan sangat cepat dan otomatis. Sistem-sistem sekarang ini bahkan bisa menggunakan laptop atau komputer desktop yang menyediakan memori lebih besar untuk memperluas data dan utilitas grafik yang ditampilkan.

Gambar 3. Contoh Scanner OBD-II

Pembacaan Sensor

Meskipun bukan merupakan bagian dari standar EPA OBD-II, peralatan diagnostik baca-keluaran yang digunakan teknisi dealer telah mampu mengenali konektor OBD-II. Kode-kode layanan yang ditampilkan misalnya; sensor ketukan (knock sensor), FI pulse width (Lebar Pulse FI), tegangan pengapian (ignition voltage), kesalahan percikan api per silinder (cylinder misfire), perpindahan tuas transmisi, dan kondisi rem ABS. Bahkan lebih dari 300 hasil bacaan yang ditampilkan, tergantung pada produsen kendaraan dan model. Scanner sangat bervariasi dalam kemampuan pembacaan sinyal-sinyal. Beberapa scantool hanya mampu menampilkan sinyal OBD dasar atau sinyal OBD-II, namun jenis lainnya mampu menunjukan berbagai macam kode layanan.

OBD-II dan Penyetelan Performa

Saat ini sejumlah besar pengemudi tidak lagi diandalkan agar transportasi menjadi lebih ekonomis, banyak yang kemudian mencari OBD-II untuk solusi tambahan peningkatan performa. Pada awal kemunculannya, sistem komputer on-board memiliki chip yang bisa diganti untuk penyesuaian dengan parameter mesin dalam meningkatkan kecepatan dan tenaga. Namun kemudian generasi sistem OBD-II memberlakukan segel sehingga tidak ada kemungkinan untuk penggantian chip, mereka para produsen telah mengembangkan sistem penerimaan data secara real-time yang sangat bermanfaat untuk proses pengesetan (tuner). Daya pemuatan benar-benar dapat memprogram ulang paramater kinerja dari sistem OBD-II untuk mengakomodasi pemilihan performa. Saat ini sejumlah model masih memiliki keterbatasan dalam pelayanan, namun kisaran ini sedang diperluas. Hal ini untuk memastikan bahwa siapa saja dapat melakukan pemrograman ulang mobilnya sesuai dengan standar emisi EPA.

Daftar Pustaka:


Artikel Terkait

MIL - DTC PGM-FI Honda

Malfunction Indicator Lamp atau disingkat MIL adalah lampu indikator dasbor yang berfungsi untuk memberitahu kepada pengguna atau mekanik tentang keadaan sepeda motor. Kedipan atau blink MIL dengan pola tertentu menunjukan kegagalan fungsi suatu input sensor dan atau suatu output aktuator. MIL merupakan bagian tak terpisahkan dari teknologi PGM-FI. Sedangkan Engine Control Module atau ECM adalah otak pengendali semua data yang masuk dari sensor, pengolah data, pengatur, hingga pengambil keputusan pada sepeda motor....

Penyebab Overheating Mesin

Panas memang dibutuhkan bagi mesin untuk menyempurnakan proses pembakaran agar menghasilkan energi yang maksimal. Namun ternyata panas yang berlebihan pada mesin justru berdampak buruk. Bisa mengakibatkan kegagalan kerja bahkan kerusakan fatal pada komponen-komponen vital. Panas berlebihan atau lebih dikenal dengan istilah Overheating menyebabkan pemuaian yang berlebihan pada komponen-komponen vital mesin, sehingga membuat celah yang terbentuk antar komponen yang bergerak menjadi sangat sempit, dalam kondisi tertentu mengakibatkan macet. Lebih parahnya lagi, komponen mesin yang mengalami overheating mengalami perubahan struktur logam, menjadi lebih rapuh dan keausan pun terjadi dengan lebih cepat. Apa saja penyebab overheating pada mesin?...

Memeriksa Tutup Radiator

Tutup Radiator atau sering di sebut Radiator Cap bukanlah sekedar sebuah tutup, tapi juga memiliki peranan penting dalam sistem pendinginan mesin kendaraan. Tutup radiator berfungsi untuk mengatur tekanan dan volume air pendingin didalam radiator. Karena peranan yang penting inilah maka perlu dilakukan pemeriksaan tutup radiator secara berkala baik secara visual maupun menggunakan alat khusus (SST). Jangan pernah remehkan benda kecil ini karena bisa berakibat fatal, salah satu akibat kerusakan pada tutup radiator adalah terjadinya overheating (panas berlebihan) pada mesin, hal ini tentu akan merusak komponen-komponen mesin....

Memahami Dwell pada Sistem Pengapian

Dwell Angle adalah jumlah derajat poros cam distributor ketika kontak poin tertutup. Dwell Angle atau Sudut Dwell bernilai tetap pada berbagai tingkat kecepatan putaran mesin. Dwell Time adalah sejumlah waktu yang diperlukan untuk mengisi tegangan pada kumparan induktif hingga mencapai tingkat energi maksimum. Dwell Time atau waktu dwell akan bervariasi sesuai dengan perubahan putaran mesin....

Mekanisme Katup - Overhead Valve

OHV atau Overhead Valve adalah salah satu mekanisme katup (valve mechanism) pada mesin yang cukup lama digunakan. Bahkan OHV merupakan mekanisme katup tertua diantara mekanisme katup yang ada sekarang ini. Ukuran yang relatif kecil membuat mekanisme katup OHV masih digunakan hingga saat ini. Namun untuk menciptakan mesin dengan RPM tinggi, dengan sangat terpaksa mekanisme katup OHV harus dihindari. Lalu apa kelebihan dan kekurangan mekanisme katup OHV?...

Mekanisme Katup - Overhead Camshaft

Mekanisme katup sangat berpengaruh pada hasil akhir tenaga mesin. 9.000 hingga 20.000 RPM (Revolution Per Minutes) bisa dihasilkan oleh mesin dengan mekanisme katup tipe Double Overhead Camshaft atau DOHC. Hal ini membuat mekanisme katup tipe Overhead Camshaft menjadi sangat populer hingga mampu menggeser dominasi mekanisme katup Overhead Valve. Sedangkan Single Overhead Camshaft atau SOHC menjadi standar mekanisme katup untuk sepeda motor sekarang ini. ...

Menyetel Waktu Pengapian Mesin

Pengaturan waktu pengapian yang tepat merupakan hal penting agar kinerja mesin bisa maksimal. Percikan yang terlalu cepat atau terlalu lambat dalam siklus mesin sangat mempengaruhi performa mesin, menimbulkan getaran yang berlebihan, dan bahkan merusak mesin. Waktu pengapian juga mempengaruhi umur mesin, konsumsi bahan bakar, dan tenaga mesin. mesin generasi lama yang masih menggunakan distributor masih menggunakan pemicu mekanik dengan memanfaatkan gaya inersia dan kevakuman pada manifold untuk mengatur waktu pengapian yang disesuaikan dengan putaran mesin dan beban....

Secure Key Shutter - Kunci Magnet

Secure Key Shutter atau Kunci Magnet atau Penutup Lubang Kunci adalah teknologi yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan para pemilik kendaraan dalam meningkatkan keamanan sepeda motornya. SKS mampu memperlambat pembobolan kunci utama dengan kunci T oleh para pencuri kendaraan bermotor. Secure Key Shutter cukup membantu walau hanya sekedar memperlambat, namun hal ini cukup efektif untuk menekan tingkat pencurian sepeda motor yang akhir-akhir ini cukup rawan terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Namun selalu ingat nasehat bang napi bahwa "Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya tapi karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!"...

Silahkan Berkomentar